Senja Perpisahan di Pondok Pesantren



    Di atas langit yang senja, di antara dinding-dinding pondok pesantren yang terbuat dari bambu rapuh dan atap rumbia yang membentang luas, terdapat seorang pemuda bernama Al Ayubi. Wajahnya yang penuh rasa sedih mencerminkan perasaannya yang terluka pada hari yang berat, 18 Mei 2024. Hari itu, angin berbisik rahasia, memayungi kedatangan kepergian seseorang yang amat dia kenal.

    Al Ayubi, dengan jubah putih yang longgar menutupi tubuhnya, meratapi kepergian sosok yang telah menjadi segala-galanya baginya selama dua tahun di pondok ini. Sosok itu bukan hanya seorang guru, namun juga seorang teman sejati, bahkan kakak yang selalu memberikan nasihat dan kebijaksanaan. Namun, kini, dia harus merelakan sosok itu pergi, meninggalkan rasa kehilangan yang teramat dalam di hatinya.

    Dalam pikirannya, kenangan-kenangan indah berputar seperti film hitam putih yang tak kunjung berhenti. Dia merindukan canda tawa yang selalu terdengar, ejekan manis yang menjadi ciri khas persahabatan mereka. Namun kini, suara itu lenyap, menyisakan kehampaan yang tak terduga.

    Sore itu, saat mentari mulai tenggelam di balik cakrawala, sosok yang dicintainya itu datang, diiringi oleh kedua orang tuanya. Mereka datang untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk pamitan dari pondok yang telah menjadi saksi perjalanan mereka. Namun, di antara keramaian itu, Al Ayubi merasa terhimpit oleh kepedihan yang mendalam. Dia tak sanggup menatap wajah yang akan segera menjauh, merasa berat melihat perpisahan itu secara langsung.

    Ketika akhirnya momen itu tiba, Al Ayubi memilih untuk pergi dari keramaian, menghindari pertemuan yang menyakitkan itu. Dia memilih untuk menyaksikan perpisahan dari kejauhan, meskipun hatinya berteriak untuk mendekat. Baginya, ini bukanlah tanda keegoisan, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan yang terus berjalan. Mereka berdua memiliki masa depan masing-masing, dan Al Ayubi menyadari bahwa hidup ini tentang bertemu dan berpisah.

    Dalam kegelapan senja yang semakin mengintensifkan kesedihan, Al Ayubi membiarkan air mata jatuh di tengah heningnya malam. Namun, di balik kepedihan yang mendalam, dia tahu bahwa kenangan itu akan tetap menghiasi ingatannya, mengukir cerita persahabatan yang takkan pudar oleh waktu. Dan dengan keyakinan itu, dia melangkah maju, menghadapi hari-hari mendatang dengan harapan yang baru.

Komentar